TEORI BELAJAR BAGI PENDIDIKAN KHUSUS


Sekelumit  Teori-Teori Belajar

dalam  Proses Pembelajaran di Pendidikan Khusus

(Yuswan)

Sebelum merancang pembelajaran, seorang guru harus menguasai sejumlah teori atau filsafat tentang belajar, termasuk beberapa pendekatan dalam pembelajaran. Teori belajar tersebut sebagian sudah dikenal dalam pelaksanaan sebelum  Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum 2004. Sebagian bahkan sudah dikenal dalam mata kuliah tentang pendidikan dan pengajaran. Penguasaan teori itu dimaksudkan agar guru mampu mempertanggungjawabkan secara ilmiah perilaku mengajarnya di depan kelas.

Berikut beberapa teori atau pendekatan yang diharapkan dapat mengingatkan kita dan dapat diterapkan untuk pembelajaran di Pendidikan Khusus.

a. Behaviorisme.

Teori ini di dalam linguistik diikuti antara lain oleh L.Bloomfield dan B.F.Skinner. Dalam hal belajar, termasuk belajar bahasa, teori ini lebih mementingkan faktor eksternal ketimbang faktor internal dari individu, sehingga terkesan siswa hanya pasif saja menunggu stimulus dari luar (guru). Belajar apa saja  dan oleh siapa saja (manusia atau binatang) sama saja, yakni melalui mekanisme stimulus – respons. Guru memberikan stimulus, siswa merespons, seperti tampak pada latihan tubian (drill) dalam pelajaran bahasa Inggris. Pelajaran yang mementingkan kaidah tatabahasa, struktur bahasa (fonem, morfem, kata, frasa, kalimat) dan bentuk-bentuk kebahasaan merupakan penerapan behaviorisme, karena behaviorisme lebih mementingkan bentuk dan struktur bahasa ketimbang makna dan maksud.

Seorang guru Pendidikan Khusus dituntut memiliki kemampuan memberikan skala tingkat intensitas stimulus  disesuaikan karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus sebagai peserta didiknya. Manifiestasinya adalah pembelajaran indifidual sebagai sentralnya.

b. Gestalt.

Berbeda dengan behaviorisme yang bersifat fragmentaris (mementingkan bagian demi bagian, sedikit demi sedikit), teori belajar ini melihat pentingnya belajar secara keseluruhan. Jika Anda mempelajari sebuah buku, bacalah dari awal sampai akhir dulu, baru kemudian bab demi bab. Dalam linguistik dan pengajaran bahasa, aliran ini melihat bahasa sebagai keseluruhan utuh, melihat bahasa secara holistik, bukan bagian demi bagian. Belajar bahasa tidak dilakukan setapak demi setapak,dari fonem, lalu morfem dan kata, frasa, klausa sampai dengan kalimat dan wacana. Bahasa adalah sesuatu yang mempunyai staruktur dan sistem, dalam arti bahasa terdiri atas bagian-bagian yang saling berpengaruhdan saling bergantung.

Pandangan Gestalt ini dapat diterapkan pada anak tunanetra, misalnya dalam pelajaran Biologi (IPA) dalam menanamkan konsep yang diluar jangkauan rentang perabaan usahakan berikan imajenasi secara utuh terlebih dahulu baru bagian perbagian. Contoh: Dalam mengenalkan seekor gajah siswa  tidak harus meraba seluruh bagian gajah  tetapi cukup sebagian saja yang merupakan cirri khas dari gajah tersebut. Selebihnya bersifat informative. Oleh karena itu tidak harus diterapkan secara klasikal, mengingat karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus tidak semuanya memiliki kemampuan untuk memahami sesauatu secara unit/global.

c. Kognitivisme.

Dalam belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi terus-menerus sepanjang hayatnya.

Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita yang merupakan “pusat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya. Pakar kognitivisme yang besar pengaruhnya ialah Jean Piaget, yang pernah mengemukakan pendapatnya tentang perkembangan kognitif anak yang terdiri atas beberapa tahap. Dalam hal pemerolehan bahasa ibu (B1) Piaget mengatakan bahwa (i) anak itu di samping meniru-niru juga aktif dan kreatif dalam menguasai bahasa ibunya; (ii) kemampuan untuk menguasai bahasa itu didasari oleh adanya kognisi; (iii) kognisi itu memiliki struktur dan fungsi. Fungsi itu bersifat genetif, dibawa sejak lahir, sedangkan struktur kognisi bisa berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu.

Di samping itu, teori ini pun mengenal konsep bahwa belajar ialah hasil interaksi yang terus-menerus antara individu dan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi. (Lihat strategi pembelajaran!).

Keterbatasan kognisi Anak Berkebutuhan Khusus tidak selamanya bersifat genetik, tetapi dapat juga sebagai dampak keterbatasan dalam menerima stimulus yang ada. Oleh karena itu seorang guru Pendidikan Khusus sangat bijaksana manakala mau memahami bahwa interaksi yang terus-menerus antar individu dengan individu lain atau antar individu dan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi  adalah sangat dibutuhkan.

d. Konstruktivisme.

Teori Piaget di atas melahirkan teori konstruktivisme dalam belajar. Piaget mengatakan bahwa struktur kognisi itu dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu sendiri. Menurut konstruktivisme, pebelajar (learner, orang yang sedang belajar) akan membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan apa yang sudah diketahuinya. Karena itu belajar tentang dan mempelajari sesuatu itu tidak dapat diwakilkan dan tidak dapat “diborongkan” kepada orang lain. Siswa sendiri harus proaktif mencari dan menemukan pengetahuan itu, dan mengalami sendiri proses belajar dengan mencari dan menemukan itu. Di sini diperlukan pemahaman guru tentang “apa yang sudah diketahui pebelajar”, atau apa yang disebut pengetahuan awal (prior knowledge), sehingga guru bisa tepat menyajikan bahan pengajaran yang pas: Jangan memberikan bahan yang sudah diketahui siswa, jangan memberikan bahan yang terlalu jauh bisa dijangkau oleh siswa.

Patut diingat bahwa sebelum belajar bahasa Indonesia siswa sudah mempunyai bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai “pengetahuan awal” mereka. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya dalam bahasa daerahnya itu harus dimanfaatkan oleh guru untuk belajar berbahasa Indonesia dengan lebih baik. Demikian pengetahuan-pengetahuan lainnya.

e. CBSA.

Sebenarnya CBSA sudah kita kenal sejak 1981 yang menyertai Kurikulum 1984 juga. CBSA itu suatu pendekatan yang lahir untuk mengatasi keadaan kelas yang siswanya serba pasif. Adalah pandangan yang salah jika dikatakan CBSA itu mengaktifkan siswa dan “membuat guru diam” (tidak aktif). Juga salah jika CBSA itu mesti berdiskusi secara kelompok, mesti memindahkan bangku dan kursi.

Yang penting sebenarnya ialah CBSA itu menuntut agar ada keterlibatan mental-psikologis pada siswa sepanjang proses belajar-mengajar. Hanya saja keterlibatan mental-psikologis itu kadang-kadang harus diwujudkan dalam perilaku fisik, misalnya bertanya, memberikan jawaban dan tanggapan, memberikan pendapat, dsb. Dalam hal pelajaran bahasa Indonesia, CBSA itu harus mewujud dalam kegiatan siswa untuk banyak berbicara dan menulis, pokoknya harus aktif-produktif ketimbang pasif-reseptif. Dalam hal-hal tertentu CBSA itu mengharuskan siswa banyak terlibat dalam proses belajar-mengajar, siswa mengalami belajarnya sendiri, mendalami materi, dsb. Dalam pembelajaran di Pendidikan Khusus memang ada kendala.. tetapi pada hakekatnya dapat dilaksanakan seirama karakteristik peserta didiknya minimal menggunakan pendekatan komunikatif.

f. Keterampilan Proses.

Sebenarnya keterampila proses itu serupa dan senafas dengan CBSA karena roh dari kedua pendekatan itu sama yaitu bagaimana agar siswa itu terlibat aktif dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas. Keterampilan proses ini lahir antara lain karena guru sering hanya memperhatikan hasil belajar dan kurang memperhatikan proses untuk mencapai hasil itu. Dengan kata lain, guru (dan murid) menghalalkan segala cara agar memperoleh hasil yang “baik” tanpa melihat cara (teknik, metode, pendekatan, teori) memperoleh hasil itu. Akibatnya, guru berlaku kurang jujur, misalnya dengan membuat soal-soal yang sangat-saangat mudah, membiarkan murid menyontek, dan sebagainya; murid pun berlaku tidak jujur, yakni sengaja menyiapkan sontekan, turunan, dan sebagainya.

Sebenarnya, sejak kurikulum 1975 kita sudah mengenal TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang rumusannya mencantumkan cara-cara untuk mencapai hasil belajar yang bisa diamati dan diukur. Dalam rumusan yang kira-kira sama, KBK pun merumuskan “kompetensi” dengan deskriptor-deskriptor tertentu. Dalam pembelajaran di Pendidikan Khusus pendekatan ini dapat secara langsung digunakan untuk menilai keterampilan vokasional  dan perilaku berbahasa di dalam kelas secara terus-menerus.

g. CTL.

Seiring dengan diperkenalkannya KBK, muncul gagasan tentang CTL, singkatan dari Contextual Teaching and Learning, atau mengajar dan belajar secara kontekstual. Pendekatan ini sebenarnya diilhami oleh filsafat konstruktivisme. Sebenarnya siswa itu bisa didorong untuk aktif melakukan tindak belajar jika apa yang dipelajari itu sesuai dengan konteks. Konteks ini tidak sekadar diartikan lingkungan belajar. Konteks itu bisa berupa konteks siswa (karakteristik siswa, usia, kondisi sosial-ekonomi, potensi intelektual, keadaan emosi, dsb), konteks isi (materi pelajaran), konteks tujuan (tujuan belajarnya, kompetensi yang hendak dicapai), konteks sosial-budaya, konteks lingkungan, dsb.

Ada beberapa unsur dalam CTL yang harus diterapkan di dalam proses belajar-mengajar, antara lain, pertanyaan, inkuiri, penemuan, pengalaman. Dalam pembelajaran di Pendidikan Khusus  guru hendaknya memperhatikan kondisi awal siswa: apakah siswa Anda berasal dari pedesaan atau perkotaan, dari keluarga ekonomi lemah atau keluarga mampu..? Guru hendaknya juga memperhatikan karakteristik siswa secara umum sebagai pembanding kondisi yang ada apakah merupakan dampak lingkungan atau psikilogisnya.

h. Pendekatan Komunikatif.

Ini adalah pendekatan khas dalam pembelajaran di Pendidikan Khusus. Karakteristik peserta didik di Pendidikan Khusus adalah mengalami keterbatasan kemampuan komukikasi sebagai dampak dari ketunaan yang dideritanya. Pada umumnya siswa memiliki pengalaman yang sangat terbatas, jadi berikan pengalaman tambahan agar komunikasi lebih bermakna dari yang ada.  Guru harus mampu menempatkan kebutuhan tingkat komunikasi adalah kuncinya. Berikan apa yang siswa butuhkan bukan apa yang bisa kita berikan/miliki.

Intinya pendekatan ini menuntut agar (i) siswa diberi kebebasan berkomunikasi tanpa beban (wajib berbahasa Indonesia yang baik dan benar); (ii) siswa mampu mengomunikasikan gagasannya kepada orang lain dan mampu menangkap dana memahami gagasan orang lain; (iii) siswa lebih banyak belajar berbuat daripada belajar berteori (teori, norma/kaidah) (iv) guru tidak perlu banyak menyalahkan, apalagi menginterupsi ketika siswa sedang berbuat sesuatu, karena hal itu dapat mematikan motivasi siswa untuk berbkomunikasi.

Perbuatan sebagai suatu keterampilan harus kita pandang secara holistik (menyeluruh), bukan serpih-serpih (bagian demi bagian). Oleh Karena itu pada hakekatnya Pendekatan komunikatif juga sejalan dengan prinsip-prinsip dalam pragmatik.

i. Pendekatan Tematik-Integratif.

Sebenarnya pendekatan ini sudah kita kenal pada kurikulum 1984 juga. Intinya, tiap pelajaran harus berpijak pada tema atau subtema tertentu. Dan tiap bahan pelajaran tidaklah berdiri sendiri melainkan dipadukan (diintegrasikan) dengan bahan pelajaran yang lain. Khusus di Pendidikan Khusus dalam belajar keterampilan vokasional, sebenarnya akan lebih tepat manakala menggunakan pendekatan Tematik-Integratif.

Pada saat yang bersamaan siswa dihadapkan pada bahan pelajaran yang dipadukan secara eksternal, misalnya keterampilan tatabusana dengan Matematika ataupun Bahasa Indonesia Ekonomi, Biologi, IPA, IPS, dsb Dapat pula secara internal dipadukan pengetahuan bahan dengan pengetahuan memotong dan menjahitnya.

Demikian sekelumit beberapa teori-teori belajar ini, mudah-mudahan dapat mengingatkan kita bahwa pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus sebagai peserta didik Pendidikan Khusus di TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB  harus tetap diberikan sesuai karakteristik dan kebutuhan siswa.

Daftar bacaan :

– Depdiknas. 2005. Buku Saku Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dit.PTK dan KPT.

– Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Pusat Perbukuan & Rineka Cipta.

– Gulu, W. 2002. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Gramedia.

– Joni,T.Raka. 1984. Strategi Belajar-Mengajar, suatu Tinjauan Pengantar. Jakarta: Ditjen Dikti, P2LPTK.

– Mappa, Syamsu, dkk. 1984. Teori Belajar-Mengajar. Jakarta: Ditjen Dikti, P2LPTK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s